Jumat, 28 Maret 2014

(Part 2) Surat Sakura Terakhir yang Kusimpan di Balik Pasir


      Surat Sakura Terakhir yang Kusimpan di Balik Pasir (Part 2)



Sekarang waktu menunjukkan pukul 22.00, Rima dan Ibunya masih berjalan-jalan di samping pantai Kuta Bali. Pasir putih yang halus membuat mereka tidak ingin beranjak dari sana.
“Ibu.. ayo pulang, sekarang sudah tengah malam”
“Tunggu sebentar lagi, Ibu masih ingin jalan-jalan”
“Tapi ini sudah tengah malam Bu, besok kita jalan-jalan lagi. Aku juga masih ingin kesini”
“Tapi Ibu sekarang masih ingin jalan-jalan.., kalau kamu lelah kita rebahan di atas pasir ini saja” Ibu Rima benar-benar merebahkan tubuhnya diatas pasir. Wajahnya tampak pucat karena lelah berjalan seharian. Rima merasa Iba, ia membiarkan Ibunya untuk rebahan diatas pasir. “Dahulu disinilah untuk pertama kalinya Ibu bertemu dengan Ayahmu”
“Benarkah? Ayah orang yang seperti apa? Mengapa Ibu akhirnya menikah dengan Ayah?”
Ibunya menatap Rima. “Ibu akan ceritakan lain kali saja. Memikirkan tentang Ayah dan Adikmu membuat Ibu lelah. Yang Ibu inginkan sekarang hanyalah agar kamu hidup bahagia, memiliki banyak teman dan sehat selalu”
“Tapi aku sudah punya Ibu, Aku sangat bahagia dan tidak perlu yang lain”
Ibunya tersenyum. “Sekarang Ibu lelah, Ibu ingin tidur dengan lelap” Rima mengangguk. Ia memegang tangan Ibunya yang hangat. Namun ia merasa takut dengan kegelapan malam dan suara ombak yang keras. Tubuh Rima gemetaran, Ia mulai menangis dan memperkuat genggamannya. Tapi ia sama sekali tidak merasa kehangatan. Tubuh Ibunya kini terasa lebih dingin dari pada angin malam. Ia menatap Ibunya yang dengan tenang tidur, tanpa menghiraukan suara tangis putrinya yang diiringi desiran ombak.
v   
Dua hari sudah berlalu semenjak pemakaman Ibunya. Rima sama sekali tidak beranjak dari kamarnya. Pamannya yang bekerja di Jepang menawarkan agar Rima tinggal bersama di rumah istrinya. Namun sang istri menyuruh Rima untuk tidak menerima tawaran itu. Ia takut Rima akan menyusahkannya dan menyarankan supaya Rima pergi ke panti asuhan saja. Rima tidak bergeming dan tetap ingin tinggal di rumah itu. Ia mengambil ganggang telepon dan menghubungi pihak sekolah.
“Halo.. ini Rima, saya ingin bertanya kepada bagian pengajaran tentang kasus pencurian yang lalu”
“Ya, silakan.. ini adalah bagian pengajaran”
“Em.. bagaimana hasil penyelidikannya? Apa sudah menemui titik terang?”
“Kami meminta maaf, tapi untuk sekarang kasus ini belum selesai dan masih ditangani pihak kepolisian”. Rima kecewa mendengarnya “Oh, begitukah..?”
“Tetapi mulai besok kamu sudah boleh masuk sekolah kembali. Kami juga turut berduka cita atas kematian Ibumu”
Rima diam tidak berbicara lagi sampai telepon dimatikan bagian pengajaran. Semua sudah tahu kalau Ibunya meninggal, tetapi tidak satupun teman-temannya melayat.
Keesokan harinya Rima pergi ke sekolah. Semua siswa yang ia lewati memandanginya. Namun ia sudah tidak terlalu peduli dan tetap berjalan dengan tegap ke kelas. Dan kini lagi-lagi ia harus mendengar ocehan teman-temannya yang mencemoh dirinya. Rima terdiam di depan pintu masuk kelas. Kakinya belum sanggup untuk melangkah ke ruangan itu. Sementara di dalam kelas ada Yaya yang sangat kesal dengan teman-temannya yang terus saja menghina Rima. Ia menghentak meja dengan keras dan membuat seluruh teman-temannya terdiam. Yaya menatap tajam satu persatu temannya yang telah mencemoh Rima.
“Memangnya mengapa kalau kami mengata-ngatainya? Itu memang kenyataan, kami sudah bilang tidak akan simpati hanya karena Ibunya meninggal. Itu kutukan karena ia sudah mencuri uang kita” ucap salah satu teman sekelasnya. Yaya merasa tidak tahan lagi dan beranjak keluar dari kelas. Dan langkahnya terhenti seketika saat melihat Rima yang berdiri mematung disana. Air mata Yaya hampir keluar, nafasnya kini seperti berhenti. Yaya terjatuh kelantai. Semua teman kelasnya heran dan langsung mendekati Yaya. Mereka juga tidak kalah kagetnya, dan bahkan ada yang berteriak karena saking kagetnya.
“Lama tidak jumpa, teman-teman..” ucap Rima pelan. Ia melihat Yaya yang duduk lemas di lantai dan mengulurkan tangannya untuk membantu Yaya berdiri. Namun Yaya yang masih syok tidak dapat bergerak sedikitpun. Rima menatapnya dengan sedih. Ia memandang teman-temannya dengan senyum pahit. “Sebelum berangkat sekolah tadi Bibiku datang dan menyuruhku untuk berhenti sekolah. Ia tidak punya uang lagi untuk membiayaiku. Jadi Aku kesini untuk menyampaikan salam perpisahan dan permintaan maafku pada kalian. Tapi rasanya kali ini aku tidak bisa mengucapkannya. Aku hanya bisa meniggalkan pesanku sebelum pergi..” ucapannya tersendat oleh tangisnya yang mengiringi perpisahan ini. Beberapa teman wanitanya juga ikut menangis. “Bunga sakura mekar pada bulan ini, saat musim semi. Tapi Aku.. Aku akan layu pada bulan ini”. Rima menyeka air matanya dan melangkahkan kakinya pergi dari sekolah. Sebagian dari temannya kini ikut terjatuh ke lantai. Menyesali apa yang telah mereka perbuat. “Aku sudah keterlaluan.. Aku bahkan tidak berani menyuruhnya untuk jangan pergi”
Yaya menatap punggung Rima yang semakin menjauh dari pandangannya sampai benar-benar menghilang. Ia mencoba memahami pesan Rima dan mulai teringat sesuatu. Tubuhnya kini mampu untuk bergerak dan segera beranjak dari kerumunan para siswa. Ia mulai melihat setiap benda di kelas dan mulai mencari sesuatu. Teman-temannya yang lain juga ikut membantu. Namun mereka tidak menemukan apapun, setiap sudut kelas sudah mereka periksa. Disaat semua sudah kelelahan mencari, Yaya duduk di kursi Rima. Ia melihat papan tulis yang penuh dengan tulisan makian terhadap sahabatnya itu. Perkiraan-perkiraan di kepalanya mulai muncul kembali, Ia mendekati papan tulis dan menyentuhnya.
“Ada apa? Apa ada sesuatu disana?” Tanya salah satu temannya.
Tangan Yaya menyusuri bagian-bagian papan tulis itu. Ia teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Rima. Saat itu Rima sedang menggambar Bunga Sakura yang sangat besar di papan tulis. Ingatannya kembali kemasa lalu.
“Mengapa kamu mencoret-coret papan tulis?” Tanya Yaya.
“Aku tidak mencoret, Aku menggambar Bunga Sakura yang besar..”
“Tapi kalau ketahuan guru pasti gambarmu akan dihapus”
“Aku tidak peduli, jika gambarnya dihapus aku akan menggambarnya kembali dibalik papan tulis. Aku menggambar ini di semua kelas yang baru kumasuki..”
Ingatan Yaya berhenti dan Ia mencoba untuk membalik papan tulis. Teman-temannya membantu Yaya untuk membalik papan tulis. Dan benar saja dugan Yaya, dibalik papan tulis ini terdapat puluhan surat yang membentuk Bunga Sakura pada saat mekar. Jumlah surat ini sama dengan jumlah siswa yang ada di kelas. Yaya menemukan surat untuk dirinya dan mulai membaca.
“Ehm.. Perisai Sakuraku yang baik, Aku sangat berterima kasih karena sudah membantuku melompati pagar. Aku juga sangat-sangat meminta maaf karena sudah membuat kamu terkena hukuman. Lain kali aku akan mentraktirmu sebagai ucapan maaf..”
Yaya kembali terduduk lemas di lantai, Ia beberapa kali menghela nafasnya. Yaya mulai menangis dengan pelan, Ia melihat semua teman-temannya yang membaca juga ikut lemas. Tiba-tiba saja guru dari bagian pengajaran masuk dengan terburu-buru. “Pelakunya sudah ditangkap! Pencuri yang sebenarnya.. adalah tukang kebun sekolah!!” Kini semua orang melonjak kaget. Mereka berhamburan dari tempat duduk mereka untuk mencari Rima. Semua orang merasa khawatir dan cemas. Mereka berencana untuk mendatangi rumah Rima.
“Salah... Rima sekarang tidak ada di rumahnya, ‘Bunga sakura mekar pada bulan ini’ adalah kumpulan surat ini dan ‘Aku akan layu pada bulan ini’ berarti tempat Ibunya meninggal yaitu di pantai Kuta, tapi Ia berkata ‘Aku’..” teman-temannya semakin takut dan cemas.
v   
Foto mendiang Ibu Rima ditemukan di atas tumpukan pasir. Semua siswa mencari sosok Rima di sekitar tempat itu. Yaya mengambil foto itu dan menyentuhnya, sesaat kemudian Ia sadar jika ada sesuatu yang mengganjal dibawah pasir itu. Yaya dan teman-temannya mulai membongkar isinya. Sebuah surat! Dan kali ini bukanlah gambar Bunga Sakura yang sedang mekar melainkan Bunga Sakura yang layu. Yaya membacakan surat itu, isinya...
“Aku.. tidak pernah mencuri uang kalian atau apapun. Aku tidak peduli jika semua orang membenciku. Tapi bisakah kalian percaya padaku? Aku hanya ingin kalian percaya. Bisakah??”
Yaya memandangi Indahnya pantai Kuta dengan linangan air mata “Ya.. Kami percaya, Selamat tinggal sobat”

~ End ~ 

Terimakasih Sudah Membaca ^_^ Tinggalkan Komenmu ya......

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar