Kamis, 27 Maret 2014

(Part 1) Surat Sakura Terakhir yang Kusimpan di Balik Pasir

  

Surat Sakura Terakhir yang Kusimpan di Balik Pasir (Part 1)



Suasana di sekolah menengah atas Jaya Bali siang hari itu tidak berbeda dengan siang-siang sebelumnya. Tidak ada satu siswa pun yang berada diluar kelas saat pelajaran sedang berlangsung. Hanya ada kicauan sang burung yang saling sahut menyahut diantara pepohonan yang tumbuh subur di sekitar sekolah. Kepala Sekolah SMA Jaya Bali baru-baru ini memang menerapkan peraturan agar para siswanya tidak berada diluar saat pelajaran sedang berlangsung. Tapi nampaknya peraturan ini tidak berlaku bagi Rima, siswi jurusan IPA kelas 2. Ia mengendap-endap berjalan menuju halaman belakang sekolah dan bersiap-siap untuk memanjat dindingnya. Rima merasa kesulitan saat hendak memanjat pagar, ia beberapa kali terjatuh dan membuat suara ribut. Tiba-tiba satpam sekolah yang kebetulan melintas tak jauh dari sana melihat. Satpam itu segera berlari kearah Rima. “Hei... !! Siapa itu ?” Rima gugup dan segera mencari tempat persembunyian. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menarik Rima masuk ke semak-semak yang rimbun. “Yaya..!!” Pekik  Rima kaget.
“Sstttt...., kalau kamu berisik kita bakal ketahuan”
Rima memelankan suaranya, “Kenapa kamu ada disini? Bukannya sekarang kamu harus masuk kelas?”
“Aku sedang dalam misi membantu temanku kabur, aku tahu ia sangat tidak berbakat saat menaiki pagar” Yaya menunjukkan senyum jahilnya kepada Rima. “Dan juga... tolong sampaikan salamku untuk ibumu, aku berharap beliau cepat sembuh”.
Rima terharu dan ingin mengucapkan terimakasih. Belum sempat kata itu terucap, satpam sudah keburu datang menuju persembunyian mereka. Yaya berinisiatif keluar untuk melindungi Rima. Satpam menyuruh Yaya mengikutinya ke ruang bagian pengajaran tanpa mengetahui bahwa Rima masih ada di dalam semak-semak. Yaya hanya bisa memberikan kode agar cepat kabur saat ia tertangkap. Awalnya Rima tidak mau kabur saat temannya tertangkap, tapi  ini merupakan satu-satunya kesempatan dan akhirnya ia pun kabur. Rima berhasil meloncati pagar, ia segera berlari sekuat tenaga menuju rumahnya. “Terimakasih, perisai Sakura..” ucap Rima pelan dalam hati.



Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, Rima akhirnya sampai pada sebuah bangunan kecil yang sudah hampir rata dengan tanah. Ia menghambur masuk kedalam rumahnya, “Ibu... Ibu.... !!” Seorang wanita yang dipanggil menoleh dan tersenyum kepada Rima, ia duduk bersandar di dinding. Lemas tak berdaya, wajahnya pucat dan tulangnya menonjol hampir diseluruh tubuhnya. Rima dengan hati yang sedih mendekati ibunya. Air matanya kini lebih berat dari pada seutas senyum yang ia nampakkan sedari tadi. Butiran-butiran air mata mulai jatuh membasahi pipi Rima, Ibunya tersenyum dan mengusap air mata sang putri.
“Ibu sudah makan?”
Ibunya tersenyum.
Rima mengeluarkan kue kering yang sejak tadi ia simpan di dalam sakunya. “Makanlah Bu.. makan yang banyak agar ibu cepat sembuh. Semua orang di sekolah sangat merindukan ibu”.
Ibunya kembali tersenyum. Ia memakan kue kering yang diberikan Rima dengan lahap tanpa berkata apapun. Rima memandangi Ibunya dan mulai bercerita tentang dirinya.
“Guru bilang kalau aku mirip Ibu, pintar dan baik. Teman-temanku juga bilang seperti itu, mereka bahkan berebut untuk duduk disebelahku. Itu karena aku mewarisi sifat ibu, apa Ibu bangga padaku?”
Ibunya lagi-lagi hanya tersenyum. Rima mendesah. Ibunya memang tidak pernah lagi bicara setelah kecelakaan yang menyebabkan kematian Ayah dan Adik laki-lakinya. Kehidupannya kini hanya seperti angin lalu, penuh dengan rasa penyesalan. Tubuhnya pun kini sudah tidak berfungsi seperti sebelumnya. Sehingga untuk mandi dan makan, Rima lah yang mengerjakan semuanya. Untungnya Rima masih memiliki Paman yang mau membiayai semua kebutuhan ia dan Ibunya. Setelah membaringkan tubuh Ibunya kekasur, Rima bersiap-siap kembali berangkat kesekolah. Ia harus sampai disekolah pada saat jam istirahat karena pada saat itulah gerbang sekolah akan dibuka. Sebelum ia melangkahkan kakinya keluar rumah, Rima meletakkan vas bunga di samping kasur Ibunya. Bunga kesukaan ia dan Ibunya. “Bunga sakura”.

Orang itu tidak asing bagi Rima. Ia berdiri didepan pintu kelas dengan kaki terangkat sebelah. Wajahnya menampakkan kalau ia sedang kelelahan. Orang itu adalah Yaya. Ia mendapat hukuman setelah ketahuan keluar kelas saat pelajaran sedang berlangsung.
“ Yaya..” Panggil Rima pelan.
“ Hei Rima...!!” Wajahnya kini berubah menjadi segar kembali. “ Kapan kamu tiba? Baru saja?”
“Em, ”
“Mengapa kamu lemas? Kamu pasti lelah, masuk dan istirahatlah. Teman-teman sedang ada pelajaran olahraga, jadi kelas kosong.”
“Em, ”
Rima melangkah masuk ke dalam kelas. Ia ingin meminta maaf sekaligus berterimakasih atas kebaikan Yaya. Tapi saat ini ia belum mampu mengucapkannya. Rima menyandarkan punggungnya ke kursi dan menuliskan beberapa kalimat di dalam surat. Setelah itu ia tertidur.
Pengumuman kenaikan kelas ditempel di mading sekolah. Yaya begitu antusias melihatnya. Ia sangat berharap kali ini ia menjadi juara umum sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi alangkah kagetnya Yaya saat mengetahui bahwa juara umum tahun ini bukanlah dirinya melainkan Rima. Senyum di wajahnya langsung menghilang. Pada saat itu Rima datang dan bersorak gembira atas prestasi yang baru saja dicapainya.
“Yaya, kamu tidak ingin mengucapkan selamat kepadaku ya?” Canda Rima.
“Oh.. ya, selamat”
“ Wah.. aku akan segera pulang dan memberitahukannya kepada Ibu. Kira-kira apa reaksi Ibu saat mendengarnya ya?”
“Em, itu... kurasa Ibumu akan senang”
“Begitukah?” Rima tertawa senang tanpa mengetahui raut wajah Yaya yang kini berubah. Yaya mengkhawatirkan dirinya yang mungkin akan dimarahi orangtuanya saat mengetahui ia gagal menjadi juara umum tahun ini.
Dengan pikiran yang berbeda, mereka berjalan bersama menuju kelas. Suasana kelas kali ini tidak seperti biasanya, tegang dan riuh. Seorang siswa mendekati Rima.
“Apa kamu ada dikelas saat pelajaran olahraga kemarin?”
“Ya, ada apa?”
“Em, anu.. uang kelas untuk Study Tour hilang pada saat itu”. Rima kaget, begitu pula Yaya. “Tapi aku...”
“Kami minta maaf, tapi saat ini kamu lah yang kami curigai.” Siswa itu mundur kebelakang. Kini semua siswa menatap Rima dengan tatapan penuh curiga. Kali ini Ibu Guru mendekati Yaya. “Ibu dengar kamu melihat Rima yang berada sendirian di kelas saat pelajaran olahraga. Apa itu benar?.” Yaya tidak langsung menjawab, ia melihat kearah Rima untuk memintai penjelasan. “Ibu tanya sekali lagi, apa kamu melihat Rima di kelas saat pelajaran olahraga??”.
“Ya.. aku melihatnya.” Semua orang kaget dan mulai berbisik mengenai kemungkinan terbesar memang Rima lah yang mencuri uang tersebut
Rima sendiri tidak kalah kaget mendengar jawaban dari Yaya. Ia menatap Yaya sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Bukan aku..” Bisik Rima dalam hati. Yaya mengalihkan pandangannya saat Ibu Guru membawa Rima ke ruang pengajaran. Kini semua siswa bergerumun ke arah Yaya dan bertanya banyak hal. Tapi Yaya hanya dapat menampakkan wajah dengan tatapan kosong tanpa bicara sepatah kata pun.

Waktu sudah menunjukkan jam 16.00 wita. Rima berjalan lunglai ke arah kelasnya. Tidak ada satu orang pun yang dapat ia lihat karena semua pelajaran sudah berakhir. Rima melangkahkan kakinya dengan sangat pelan, dan beberapa saat kemudian langkahnya benar-benar terhenti. Pemandangan yang ada di depannya sungguh menyakitkan. Buku-buku berserakan dan tasnya telah rusak parah. Meja tempat duduk Rima dan papan tulis juga penuh dengan coretan. Ia merasa langit telah menekan tubuhnya ke dasar yang paling dalam. Rima kemudian menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya kini tertuju pada tulisan di papan tulis.
“Pergi kamu pencuri !!”
“Jangan injakkan kakimu di kelas kami !”
“ Jika kamu tidak mengembalikan uangnya besok, aku akan mematahkan meja dan kursimu !”
“ Kami tidak akan memberikan belas kasihan hanya karena Ibumu bisu, kamu harus mengganti semua uang kami secepatnya!”
Tanpa sadar air mata telah membasahi pipi Rima. “Mengapa semua orang menjadi aneh? Apa yang sudah kulakukan? Mengapa kalian menghina ibuku? Apakah ini hanya mimpi??” Rima merasa marah dan ingin beranjak dari tempat duduknya untuk menghapus semua tulisan itu. Tapi alangkah kagetnya ia saat mengetahui tubuhnya kini tertempel pada kursi. Tidak dapat beranjak. Wajah Rima memerah menahan marah dan kesedihannya. Air matanya menguncur lebih deras. Ia terisak semakin kencang. Tak ada satupun yang dapat menghiburnya. Hanya kicauan burung-burung yang hinggap di jendela kelas yang dapat mengiringi tangisnya. Sebuah surat ia tulis di sela kesedihannya.

Masa sulit Rima telah datang. Perlakuan-perlakuan buruk dari temannya terus ia terima setiap harinya. Bukan hanya tuduhan mencuri, kini tersebar rumor bahwa ia telah menyogok para guru untuk menjadi juara umum. Rumor ini diperkuat karena Rima terlalu sering kabur saat pelajaran dan tetap mendapatkan nilai yang lebih baik dari pada teman-temannya. Wali kelas Rima telah berkali-kali menegaskan bahwa rumor tersebut adalah palsu. Namun penegasan Wali Kelas tidak sekuat desas-desus yang telah menyebar di sekolah. Rima di panggil lagi, dan kali ini ia harus berurusan dengan Ritha, Kepala Sekolah SMA Jaya Bali.
“Kamu akan kami liburkan sampai kasus pencurian ini menemui titik terang”
Rima kaget. “Saya benar-benar tidak pernah mencuri uang siapapun Bu.., tolong Ibu percaya dengan saya. Saya..”
“Jika memang kamu tidak mencurinya, maka buktikanlah..”
Rima terdiam. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membuktikan ketidakbersalahannya saat ini. Ia pamit keluar. Di lorong sekolah ia bertemu dengan Yaya. Rima berjalan pelan kearah Yaya yang sudah menunggunya. “Wajahmu tampak pucat.. kamu sakit?” Sapa Rima.
“Hah.., kamu tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara omong kosong.”
“Lalu apa yang harus kita bicarakan? Sekarang aku benar-benar sedang sibuk..”
“Siapa orangnya? Orang yang mencuri uangnya, Kamu melihatnya kan?”
“Tidak.. aku tidak melihatnya”
“Rima... jujurlah, posisimu sekarang berada di titik yang tidak aman. Kalau kamu tidak memberitahu Kepala Sekolah, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah”
Rima tersenyum datar. “Aku sudah sangat jujur. Tidak masalah jika orang lain menganggapku apa, asalkan kamu percaya padaku..itu sudah cukup”. Rima pamit dan berjalan kearah kelas. Yaya tiba-tiba menghentikannya. “Kamu mungkin salah menanggapiku. Aku... sama seperti yang lainnya, tidak ada bukti yang menyatakan kamu tidak bersalah. Sekarang ini, kamulah pencurinya...”
Betapa kagetnya Rima mendengar kata-kata dari Yaya. Ia menatap temannya itu, tapi Yaya enggan menatap Rima dan segera pergi keluar dari lorong. Seluruh tubuh Rima menjadi lemas, ia terjatuh ke lantai. Otaknya ingin mencerna perkataan Yaya, namun sekarang ia tidak sanggup untuk memikirkan apapun. Selama ini ia merasa tenang karena Yaya selalu percaya dan membelanya saat ia dijauhi teman-temannya. Dan kini perisainya sudah retak. Perisai Sakura.

“Bangun.. sudah jam 08.00, kamu bisa telat.”
Rima terbangun dari mimpinya, matanya tampak bengkak mungkin karena ia menangis semalaman. Dilihatnya ibunya tengah duduk disampingnya sambil membawa beberapa hidangan makanan. “Ah... aku pasti sedang bermimpi”
“Mimpi apa nak?” Rima yang hendak tidur lagi, melonjak kaget. Tidak percaya apa yang baru ia dengar barusan.
“I..Ibu bicara? Apa Ibu bicara denganku?” Ibunya tersenyum. “Makanlah saat masih hangat.. Ibu ingin menyiapkan air hangat dulu untukmu”
Rima menepuk pipinya beberapa kali, yang ia lihat didepan matanya sekarang adalah Ibunya sebelum terjadi kecelakaan. Sehat dan ceria. Air mata Rima keluar seperti buliran mutiara. Ia beranjak dari kasur dan memeluk ibunya. “Aku tidak perlu air hangat Bu.. sekarang perisai sakuraku telah patah, jadi Aku tidak ingin kembali ke sekolah. Aku hanya ingin di rumah bersama Ibu. Aku ingin Ibu menjadi perisai sakuraku juga, sama seperti waktu dahulu”
Ibunya tersenyum. “Baiklah... jika kamu tidak ingin masuk sekolah, maka kita akan liburan saja. Ibu juga sudah lelah berada di rumah ini. Kita cari tempat yang paling menyenangkan. Ayo cepat siap-siap..” Rima menganggukkan kepalanya dengan senang. Ia sangat bersyukur karena Ibunya sekarang sudah kembali. Ibunya yang selalu sakit parah kini benar-benar telah segar bugar.
Disaat sedang bersiap, ia melihat kumpulan botol obat yang sudah kosong. Dengan heran Rima mengambil botol itu. “Dua hari yang lalu botol obat ini masih penuh, kenapa sudah habis? Apa Ibu membuangnya karena sudah merasa baikan?” Ibunya tiba-tiba memanggil dari luar dan menyuruh Rima untuk segera berangkat. “Tidak masalah obat ini habis, Ibuku telah sehat dan tidak memerlukannya lagi” Rima segera keluar dan pergi dari rumah. Ia melewati vas Bunga Sakura dan tidak menyadari jika semua bunga itu telah layu.

...............

bersambung ke bagian Part 2



 

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar